|
Didong
Id.wikipedia.org: Sebuah
kesenian rakyat Masyarakat
Gayo yang
dikenal dengan nama Didong, yaitu suatu kesenian yang memadukan
unsur
tari,
vokal, dan
sastra. Kapan
kesenian ini bermula, hingga kini belum diketahui secara pasti. Demikian pula
arti kata didong yang sesungguhnya.
Makna
Ada yang berpendapat bahwa kata “didong” mendekati pengertian kata “denang” atau
“donang” yang artinya “nyanyian sambil bekerja atau untuk menghibur hati atau
bersama-sama dengan bunyi-bunyian”. Dan, ada pula yang berpendapat bahwa Didong
berasal dari kata “din” dan “dong”. “Din” berarti
Agama dan
“dong” berarti
Dakwah.
Fungsi
Pada awalnya didong digunakan sebagai sarana bagi penyebaran agama Islam melalui
media syair. Para ceh didong (seniman didong) tidak semata-mata menyampaikan
tutur kepada penonton yang dibalut dengan nilai-nilai estetika, melainkan di
dalamnya bertujuan agar masyarakat pendengarnya dapat memaknai hidup sesuai
dengan realitas akan kehidupan para Nabi dan tokoh yang sesuai dengan Islam.
Dalam didong ada nilai-nilai religius, nilai-nilai keindahan, nilai-nilai
kebersamaan dan lain sebagainya. Jadi, dalam ber-didong para ceh tidak hanya
dituntut untuk mampu mengenal cerita-cerita religius tetapi juga bersyair,
memiliki suara yang merdu serta berperilaku baik. Pendek kata, seorang ceh
adalah seorang seniman sejati yang memiliki kelebihan di segala aspek yang
berkaitan dengan fungsinya untuk menyebarkan ajaran Islam. Didong waktu itu
selalu dipentaskan pada hari-hari besar
Agama Islam.
Menurut Perkembangan
Dalam perkembangannya, didong tidak hanya ditampilkan pada hari-hari besar agama
Islam, melainkan juga dalam upacara-upacara adat seperti perkawinan, khitanan,
mendirikan rumah, panen raya, penyambutan tamu dan sebagainya. Para pe-didong
dalam mementaskannya biasanya memilih tema yang sesuai dengan upacara yang
diselenggarakan. Pada upacara perkawinan misalnya, akan disampaikan teka-teki
yang berkisar pada aturan adat perkawinan. Dengan demikian, seorang pe-didong
harus menguasai secara mendalam tentang seluk beluk adat perkawinan. Dengan cara
demikian pengetahuan masyarakat tentang adat dapat terus terpelihara.
Nilai-nilai yang hampir punah akan dicari kembali oleh para ceh untuk keperluan
kesenian didong.
Penampilan didong mengalami perubahan setelah Jepang masuk ke Indonesia. Sikap
pemerintah Jepang yang keras telah “memporak-porandakan” bentuk kesenian ini.
Pada masa itu, didong digunakan sebagai sarana hiburan bagi tentara Jepang yang
menduduki
tanah Gayo.
Hal ini memberikan inspirasi bagi masyarakat Gayo untuk mengembangkan didong
yang syairnya tidak hanya terpaku kepada hal-hal religius dan adat-istiadat,
tetapi juga permasalahan sosial yang bernada protes terhadap kekuasaan penjajah
Jepang. Pada masa setelah proklamasi, seni pertunjukan didong dijadikan sebagai
sarana bagi pemerintah dalam menjembatani informasi hingga ke desa-desa
khususnya dalam menjelaskan tentang
Pancasila,
UUD 1945 dan
semangat bela
negara. Selain
itu, didong juga digunakan untuk mengembangkan semangat kegotong-royongan,
khususnya untuk mencari dana guna membangun gedung
sekolah,
madrasah,
mesjid, bahkan
juga pembangunan jembatan. Namun, pada periode 1950-an ketika terjadi pergolakan
DI/TII
kesenian didong terhenti karena dilarang oleh
DI/TII. Akibat
dilarangnya didong, maka muncul suatu kesenian baru yang disebut saer, yang
bentuknya hampir mirip dengan didong. Perbedaan didong denga saer hanya dalam
bentuk unsur gerak dan tari. Tepukan tangan yang merupakan unsur penting dalam
didong tidak dibenarkan dalam saer.
Dewasa ini didong muncul kembali dengan lirik-lirik yang hampir sama ketika
zaman Jepang, yaitu berupa protes (anti kekerasan). Bedanya, dewasa ini
protesnya ditujukan kepada
pemerintah
yang selama sekian tahun menerapkan
Nanggroe Aceh Darussalam
sebagai Daerah
Operasi Militer,
sehingga menyengsarakan rakyat. Protes anti kekerasan sebenarnya bukan hanya
terjadi pada kesenian didong, melainkan juga pada bentuk-bentuk kesenian lain
yang ada di Aceh.
Céh
Para ceh yang turut berjasa mengembangkan dan melestarikan didong di
tanah Gayo
'diantaranya adalah: Ceh Tjuh Ucak, Basir Lakkiki Abd. Rauf, Ecek Bahim, Sali
Gobal, Daman, Idris Sidang Temas, Sebi, Utih Srasah, Beik, Tabrani, Genincis, S.
Kilang, Ibrahim Kadir, Mahlil, Bantacut, Dasa, Ceh Ucak, Suwt, Talep, Aman Cut,
Abu Kasim, Syeh Midin, M. Din, Abu Bakar, Ishak Ali Dan Ceh kucak Kabri
Wali,Yang Begitu Dikenal Dikalangan Masyarakat
Gayo.
Pemain dan Peralatan
Satu kelompok kesenian didong biasanya terdiri dari para “ceh” dan anggota
lainnya yang disebut dengan “penunung”. Jumlahnya dapat mencapai 30 orang, yang
terdiri atas 4--5 orang ceh dan sisanya adalah penunung. Ceh adalah orang yang
dituntut memiliki bakat yang komplit dan mempunyai kreativitas yang tinggi. Ia
harus mampu menciptakan puisi-puisi dan mampu menyanyi. Penguasaan terhadap
lagu-lagu juga diperlukan karena satu lagu belum tentu cocok dengan karya sastra
yang berbeda. Anggota kelompok didong ini umumnya adalah laki-laki dewasa.
Namun, dewasa ini ada juga yang anggotanya perempuan-perempuan dewasa. Selain
itu, ada juga kelompok remaja. Malahan, ada juga kelompok didong remaja yang
campur (laki-laki dan perempuan). Dalam kelompok campuran ini biasanya perempuan
hanya terbatas sebagai seorang
Céh. Peralatan
yang dipergunakan pada mulanya bantal (tepukan bantal) dan tangan (tepukan
tangan dari para pemainnya). Namun, dalam perkembangan selanjutnya ada juga yang
menggunakan seruling, harmonika, dan alat musik lainnya yang disisipi dengan
gerak pengiring yang relatif sederhana, yaitu menggerakkan badan ke depan atau
ke samping.
Jalannya Pementasan
Pementasan didong ditandai dengan penampilan dua
kelompok (Didong
Jalu) pada suatu arena pertandingan. Biasanya dipentaskan di tempat
terbuka yang kadang-kadang dilengkapi dengan tenda. Semalam suntuk kelompok yang
bertanding akan saling mendendangkan teka-teki dan menjawabnya secara
bergiliran. Dalam hal ini para senimannya akan saling membalas “serangan” berupa
lirik yang dilontarkan olah lawannya. Lirik-lirik yang disampaikan biasanya
bertema tentang pendidikan, keluarga berencana, pesan pemerintah (pada zaman
Orba), keindahan alam maupun kritik-kritik mengenai kelemahan, kepincangan yang
terjadi dalam masyarakat. Benar atau tidaknya jawaban akan dinilai oleh tim juri
yang ada, yang biasanya terdiri dari anggota masyarakat yang memahami ddidong
ini secara mendalam
|