|
Pakaian
Gayo
Gayolut.wordpress.com
:Di masa silam orang Gayo pernah mengenal bahasan busana dari kulit kayu nanit,
hasil tenunan sendiri dari bahan kapas, dan bahan kain yang
didatangkan dari luar
daerah Gayo. Periode pemakaian nanit sudah jauh dari ingatan orang sekarang,
yang konon dipakai pada masa-masa sulit di zaman kolonial Belanda atau masa
sebelumnya. Kegiatan bertenun pun sudah lama tak tampak dalam kehidupan mereka,
kecuali pada masa pendudukan balatentara Jepang di mana kehidupan serba sulit.
Busana yang diperkenalkan di sini dibatasi pada busana sub kelompok Gayo Lut
yang berdiam di Kabupaten Aceh Tengah. Uraian tentang busana atau pakaian ini
termasuk unsur perhiasan atau assesorisnya yang dikenakan dalam rangka upacara
perkawinan, karena di luar upacara itu tidak tampak. adanya ciri busana khas
Gayo, lebih-lebih pada zaman masa belakangan ini.
Unsur-unsur
pakaian pengantin wanita adalah baju, kain sarung pawak, dan ikat pinggang
ketawak. Unsur-unsur perhiasan adalah mahkota sunting, sanggul sempol gampang,
cemara, lelayang yang menggantung di bawah sanggul, ilung-ilung, anting-anting
subang gener clan subang ilang, yang semuanya itu ada di seputar kepala. Di
bagian leher tergantung kalung tangang terbuat dari perak atau uang perak
tangang ringit dan tangang birah-mani; clan belgong yang merupakan untaian
manik-manik. Kedua lengan sampai ujung jari dihiasi dengan bermacam-macam gelang
seperti ikel, gelang iok, gelang puntu, gelang berapit, gelang bulet, gelang
beramur, topong, dan beberapa macam cincin sensim belah keramil, sensim genta,
sensim patah paku, sensim belilit, sensim keselan, sensim ku I. Bagian pinggang
selain ikat pinggang dari kain ketawak, masih ada tali pinggang berupa rantai
genit rante; clan di bagian pergelangan kaki ada gelang kaki. Unsur busana lain
yang sangat penting adalah upuh ulen-ulen selendang dengan ukuran relatif lebar.
Busana adat perkawinan
Gayo, mengetengahkan kekayaan teknik sulaman benang warna putih, merah, kuning
dan hijau. Pakaian pria dikenal dengan sebutan baju Aman mayak, pakaian wanita
disebut Ineun mayak.Pengantin pria
mengenakan bulang pengkah, yang sekaligus berfungsi tempat menancapkan sunting.
Unsur lain adalah baju putih, tangang, untaian gelang pada lengan, cincin, kain
sarung, genit rante, celana, ponok yakni semacam keris yang diselipkan di
pinggang. Sanggul sempol gampang
dengan bentuk tertentu sempol gampang bulet dipakai pada saat akad nikah, dan
ada bentuk lain sempol gampang kemang yang dipakai selama 10 hari setelah akad
nikah. Sunting yang semacam mahkota itu merupakan susunan perca kertas minyak
warna-warni sebagai simbol kebesaran atau keanggunan. Baju pria dan wanita clan
celana pria biasanya berwarna hitam. Sedangkan kain sarung adalah semacam
songket yang disebut upuh kerung bakasap. Unsur pakaian yang
diberi hiasan adalah upuh ulen-ulen, baju wanita baju kerawang, clan ketawak.
Motif-motif hiasan yang selalu muncul pada ketiga unsur pakaian ini adalah: mun
berangkat atau mun beriring (awan berarak), pucuk rebung (pucuk rebung), puter
tali (pilin berganda), peger (pagar), matan lo (matahari), Wen (bulan). Motif
mun berangkat merupakan simbol kesatuan atau kesepakatan; pucuk rebung bermakna
ikatan yang teguh; puter tali bermakna kerukunan atau saling tenggang; peger
bermakna ketahanan clan ketertiban; matan lo dan ulen adalah kekuatan yang
menyinari alam semesta termasuk manusia itu sendiri.
Motif-motif di atas
dijahitkan dengan benang berwarna putih, merah, kuning, dan hijau pada latar
warna hitam pada selendang upuh ulen-ulen. Kecuali motif matahari clan bulan,
motif-motif lainnya dituangkan pula pada baju wanita dengan latar hitam. Motif
pada stagen ketawak berlatar kain warna merah muda atau merah bata. Belakangan
latar kain tempat menuangkan motif tadi menjadi sangat bervariasi, tergantung
pada selera penjahitnya, misalnya biru, kuning, merah, coklat clan lain-lain.
Unsur pakaian itu bukan lagi untuk suatu upacara adat seperti perkawinan, tetapi
dipakai dalam upacara yang bersifat resmi lainnya. Perkembangan ini ada
kecenderungan sebagai memperkuat identitas atau kebanggaan etnik. Pakaian
semacam itu dipakai para pejabat dalam menerima tamu terhormat yang datang dari
luar daerah, misalnya menteri. Tamu terhormat itu pun disambut penari yang
menggunakan “baju adat” baju ketawang dengan berselimut upuh ulen-ulen tadi.
Biasanya tamu terhormat atau tamu – agung itu diselimutkan pula dengan kain adat
upuh ulen-ulen berkualitas terbaik. Pemberian ini sebagai simbol rasa hormat
yang tinggi sekaligus sebagai ungkapan penerimaan yang ikhlas dari masyarakat. Pada masa yang lebih
akhir ini industri kerajinan kain bernuansa adat ini digalakkan oleh pemerintah
setempat clan berkembang menjadi industri kerajinan rumah tangga. Motif-motif
tadi tidak hanya dituangkan pada busana, tetapi sudah muncul pada kopiah, tas,
dompet, taplak meja, bantalan kursi, clan lain-lain. Perkembangan ini dirasakan
semakin memantapkan identitas budaya. Hasil-hasil kerajinan
yang muncul dalam berbagai item tadi, yang dikenal dengan kerawang Gayo
kebetulan mendapat perhatian pada di luar Gayo. Hal itu menyebabkan tumbuhnya
industri “Kerawang Gayo” di luar daerah Gayo, misalnya di Banda Aceh, Medan,
Jakarta dan hasilnya muncul di berbagai toko cenderamata di berbagai kota di
Indonesia.
|